Sejarah Kaum Arab di Mekah (Arab Musta'ribah/Adnaniyah)
Adapun Arab Musta'ribah. nenek moyang mereka yang tertua adalah Nabi Ibrahim a.s. yang berasal dari negeri Irak, dari sebuah kota yang disebut Ur. Kota ini terletak di tepi barat sungai Eufrat berdekatan dengan Kufah.
Sebagaimana diketahui, Nabi Ibrahim a.s. telah berhijrah dari sana menuju Haran atau Harran, setelah itu menuju Palestina yang kemudian beliau jadikan sebagai markas dakwah beliau. Beliau banyak melakukan perjalanan ke pelosok negeri ini dan selainnya. Beliau juga pernah mengunjungi Mesir. Fir'aun kala itu berupaya untuk memperdaya dan berniat buruk terhadap istri beliau, Sarah. Namun Allah membalas tipu dayanya dan menjadikannya senjata makan tuan. Maka tersadarlah Fir'aun betapa kedekatan hubungan Sarah dengan Allah hingga akhirnya ia jadikan anaknya, Hajar sebagai abdi Sarah. Ibrahim a.s. kembali ke Palestina kemudian Hajar dinikahkan dengan Nabi Ibrahim a.s. oleh Sarah. Hasil pernikahan Ibrahim a.s. dengan Hajar, Allah menganugerahkan kepada mereka seorang anak bernama Isma'il a.s.. Sarah terbakar api cemburu yang memaksa untuk mengasingkan Hajar dan anaknya yang masih kecil. Maka Ibrahim a.s. membawanya ke sebuah daerah tandus di Hijaz dan menempatkan mereka di sisi Baitul Haram. Beberapa lama tinggal di Mekah kemudian datanglah suku Jurhum dan meminta izin kepada Hajar untuk tinggal bersama di Mekah. Setelah sekian lama berbaur dengan suku Jurhum, akhirnya Isma'il menikah dengan salah satu wanita dari suku Jurhum. Namun diceraikannya atas perintah ayahnya Nabi Ibrahim a.s.. Kemudian Isma'il menikah lagi dengan Putri Mudhadh bin Amr, sesepuh dan pemuka kabilah Jurhum. Dari perkawinannya dengan putri Mudhadh, Isma'il a.s. dikaruniai anak sebanyak 12 anak yang semuanya laki-laki, yaitu:
1. Nabit atau Nabayuth
2. Qaidar
3. Adba'il
4. Mibsyam
5. Misyma'
6. Duma
7. Misya
8. Hidad
9. Yutma
10. Yathur
11. Nafis
12. Qaiduman
Dari mereka inilah kemudian berkembang menjadi 12 kabilah, yang semuanya menetap di Mekah untuk beberapa lama. Mata pencaharian mereka adalah berdagang dari negeri Yaman ke Syam dan Mesir. Kemudian kabilah-kabilah ini menyebar ke berbagai penjuru jazirah, dan bahkan hingga keluar jazirah. Kemudian secara bertahap, kondisi mereka seakan tenggelam dibawa zaman, kecuali anak cucu dari Nabir dan Qaidar.
Peradaban kaum Al-Anbath yaitu anak cucu Nabit mengalami kemajuan pesat di bagian utara Hijaz. Mereka membentuk pemerintahan yang kuat dan dipatuhi oleh para penduduk daerah-daerah di pinggirannya, lalu menjadikan Al-Batra sebagai ibukotanya. Tak seorangpun yang mampu melawan mereka hingga datanglah pasukan Romawi yang kemudian berhasil menghancurkan mereka.
Adapun anak keturunan Qaidar bin Isma'il a.s. masih menetap di Mekah, beranak pinak di sana hingga lahirlah darinya Adnan dan anaknya Ma'ad. Dari dialah orang-orang Arab Adnaniyah menisbatkan nasab mereka. Adnan adalah kakek ke-21 dalam silsilah nasab Nabi Muhamad SAW.
Komentar
Posting Komentar